Selasa, 26 November 2013

PSIKOLOGI PENDIDIKAN



TEORI BELAJAR
I.         PENDAHULUAN
A.       Latar belakang
       Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukan perubahan perilakunya.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan. Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.
       Teori adalah seperangkat asas tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya.  Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.

B.       Rumusan masalah
       Dari latar belakang diatas maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Sebutkan macam-macam teori belajar ?

C.       Tujuan
1.      Mengetahui dan memahami teori belajar yang bisa digunakan.

II.      PEMBAHASAN
A.       Macam- macam Teori Belajar
       Dalam sejarah perkembangan teori belajar, setidaknya telah terjadi tiga kali pergantian paradigma. Pertama, paradigma behavioristik yang menekankan proses belajar sebagai perubahan relatif permanen pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil pengalaman (Mazur dalam Eggen dan Caushak, 1997). Dengan demikian, penekanan hanya pada perilaku yang dapat dilihat, tanpa memprhatikan perubahan-perubahan atau proses-proses internal apapun yang terlibat didalamnya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah teori Classical Conditioning dari Ivan Pavlov, Connectionism dari Thorndike, teori behaviorisme dari Waston, teori sistem dari Clark Hull, teori Contiguity dari Edwin Guthrie, dan Operant Conditioning dari B.F. Skinner.
       Kedua, paradigma kognitif yang berpendapat bahwa belajar tidak hanya ditunjukan oleh perubahan perilaku yang dapat diamati, akan tetapi belajar adalah perubahan struktur mental internal seseorang yang memberikan kapasitas padanya untuk menunjukan  perubahan perilaku. Struktur mental ini meliputi pengetahuan, keyakinan, keterampilan, harapan, dan mekanisme lainya. Dengan demikian, fokus paradigma ini adalah pada potensi perilaku. Yang termasuk dalam paradigma ini adalah teori Gestalt, teori puposif behaviorism dari Edward Tolman, dan Field Theory  dari Kurt Lewin, Information-processing theory, teori Antribusi dari Weiner, teori Cognitive Developmental dari Jaen Piaget, teori Discovery Learning dari Jerome Bruner.
       Ketiga, paradigma konstruktivis yang memandang belajar sebagai proses konstruksi pengetahuan oleh individu berdasarkan pengalaman. Teori-teori dalam paradigama ini diantaranya adalah teori Individual Cognitive Constructivist dari Vygotsky, teori Cognitive Developmental dari Jaen Piaget.
a.         Teori Belajar Behavioristik
       Behaviorisme dari kata behave yang berarti berperilaku dan isme berarti aliran. Behavorisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi (gagasan awal) bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah. Dalam melakukan penelitian, behavioris tidak mempelajari keadaan mental. Jadi, karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah pemahaman terhadap kejadian-kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilaku seseorang, bukan pikiran, perasaan, ataupun kejadian internal  lain  dalam diri orang tersebut. Seperti telah disebutkan, paradigma behavioristik menekankan proses belajar sebagai perubahan relatif permanen pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil pengalaman. Dengan demikian, perubahan perilaku yang disebabkan oleh sakit, distres emosional, atau kematangan tidak dapat disebut sebagai belajar. Fokus behaviorisme adalah respons terhadap berbagai tipe stimulus. (Mahmud, 2012)
        Para tokoh yang memberikan pengaruh kuat pada aliran ini adalah :
1.         Ivan Pavlov
       Teori-teori klasik dipelapori oleh seorang ahli sosiologi Rusia bernama Ivan Pavlo pada awal tahun 1900an dengan teori Classical Conditioning. Prosedur Conditioning Pavlov disebut klasik, karena merupakan penemuan bersejarah dalam bidang psikologi (Rumini, 1993). Untuk menghasilkan teori ini Ivan Pavlov melakukan suatu eksperimen secara sistimatis dan saintifik, dengan tujuan mengkaji bagaimana pembelajaran berlaku pada suatu organisme.
       Dalam teorinya Pavlov menyatakan bahwa gerakan refleks itu dapat dipelajari dan dapat berubah dengan melakukan latihan. Refleks dibagi menjadi dua bagian, yaitu refleks wajar (unconditioned reflex) dan refleks bersyarat (conditioned reflex). Refleks wajar, refleks yang terjadi dengan sendirinya saat diberikan rangsang, sedangkan refleks bersyarat adalah refleks yang harus dipelajari. Menurut teori Classical Conditioning, belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions), dapat berupa latihan yang dilakukan secara terus menerus sehingga menimbulkan reasksi (response). (Saputra, 2012)
       Kelemahannya adalah menganggap bahwa belajar adalah hanyalah terjadi secara otomatis dan lebih menonjolkan peranan latihan-latihan, dimana keaktifan dan pribadi seseorang tidak dihiraukan.
2.         Edward L. Thorndike
       Teori Connectionsme ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949). Menurut Thorndike, seluruh kegiatan belajar adalah didasarkan pada jaringan asosiasi atau hubungan (bonds) yang dibentuk antara stimulus dan respon. Karena itu teori ini disebut juga S-R Bond theory atau S-R Psycology of Learning. (Khodijah, 2011)
       Selain itu, teori ini juga disebut trial and error learning. Hal ini karena hubungan yang terbentuk antara stimilus dan respon tersebut timbul terutama melalui trian and error, yaitu suatu upaya mencoba berbagai respon untuk mencapai stimulus meski berkali-kali mengalami kegagalan. Proses ini keudian oleh Thorndike juga disebut sebagai Connectionisme, atau Learning By Selecting And Connecting. (Islamuddin, 2012)
       Tiga hukum belajar mayor yang dikemukakan oleh Thorndike adalah (a)  law of readiness, (b) law of exercise, dan (c) law of effect. (Khodijah, 2011)
a.         Law of readiness
       Thorndike percaya bahwa kesiapan adalah kondisi belajar yang penting, karena kepuasan atau frustasi bergantung pada kondisi kesiapan individu. Kalau individu tidak siap, ia akan mengalami kegagalan dalam belajar, dan kegagalan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan ia menjadi frustasi.
b.         Law of exercise
       Perilaku sebagai hasil belajar terbentuk karena adanya hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan tersebut diperkuat atau diperlemah oleh tingkat intensitas dan durasi pengulangan hubungan atau latihan. Setelah tahun 1930, Thorndike merevisi hukum ini. Latihan saja tidaklah cukup, latihan hanyalah akan membawa hasil jika diikuti atau disertai oleh hadiah(reward) atau hukuman ( punishment ).
c.         Law of effect
       Jika sebuah respon menghasilkan efek yang menyenangkan, hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dihasilkan respon, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respon tersebut, kemudian pada akhirnya respon tersebut tidak dimunculkan lagi.
3.         J.B Waston
       Pada tahun 1919, pakar psikologi berkebangsaan AS, J.B. Watson dalam bukunya Psychology from the Standpoint of a Behaviorist mengkritisi metode introspektif dalam pakar psikologi yaitu metode yang hanya memusatkan perhatian pada perilaku yang ada atau berasal dari nilai-nilai dalam diri pakar psikologi itu sendiri.
       Menurut Watson (Hamzah Uno, 2006) belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon .  Stimulus dan respon tersebut berbentuk tingkah laku yang bisa diamati. dengan kata lain Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui karena faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar telah terjadi atau belum. (Lestari, 2013)
       Kebanyakan dari karya-karya Watson adalah komparatif yaitu membandingkan perilaku berbagai binatang. Karya-karyanya sangat dipengaruhi karya Ivan Pavlov. Namun pendekatan Watson lebih menekankan pada peran stimuli dalam menghasilkan respons karena pengkondisian, mengasimilasikan sebagian besar atau seluruh fungsi dari refleks. Karena itulah, Watson dijuluki sebagai pakar psikologi S - R (stimulus-response). (Mahmud, 2012)
4.         Clark Hull
       Dalam teorinya ia mengatakan bahwa suatu kebutuhan harus ada pada diri seseorang yang sedang belajar, kebutuhan itu dapat berupa motif, maksud, ambisi, atau aspirasi. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar individu. Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang. Jadi pada diri seseorang harus ada motif sebelum belajar terjadi atau dilakukan. (Saputra, 2012)
5.         Edwin Guthrie
       Guthrie mengemukakan bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus dan respon tertentu.  Stimulus dan respon merupakan faktor kritis dalam belajar.  Oleh karena itu diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan lebih langgeng.  Suatu respon akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) apabila respon tersebut berhubungan dengan berbagai stimulus.
       Guthrie mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan seseorang.  Contoh seorang anak perempuan yang setiap kali pulang sekolah selalu mencampakkan baju dan topinya dilantai.  Ibunya menyuruh agar baju dan topi dipakai kembali oleh anaknya.  Lalu kembali keluar, dan masuk rumah kembali sambil mengantungkan baju dan topinya di tempat gantungannya.  Setelah beberapa kali melakukan hal itu, respon menggantung topi dan baju menjadi terasosiasi dengan stimulus memasuki rumah. (Lestari, 2013)
6.         B. F. Skinner
       Skinner menyatakan bahwa belajar merupakan “Tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang (S) dan respon (R)” yang terkenal dengan teorinya yaitu Operant Conditioning Theory. Ada dua macam respon dalam kegiatan belajar Respondent Response Reflexive Respons, bersifat spontan atau dilakukan secara reflek, diluar kemampuan seseorang. Dalam situasi yang demikiasn seseorang cukup belajar dengan stimulus yang diberikan dan ia akan memberikan respons yang sepadan dengan stimuli yang datang. Operant Response (Instrumental Response), respon yang timbul dan berkembangnya dikuti oleh perangsan-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian disebut dengan reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsang ini memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Menurut Skinner, pengkondisian Operant terdiri dari 2 konsep utama, yaitu : penguatan (reinforcement), yang terbagi kedalam penguatan positif dan penguatan negative, dan hukuman (punishment).
       Menurut Santrock (2010) dalam Lestari (2013) Inti dari teori ini adalah dimana konsekunsi prilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan terjadi. Konsekuensi – imbalan atau hukuman bersifat sementara pada perilaku organisme.  Contoh seorang siswa akan mengemas bukunya secara rapi jika dia tahu bahwa dia akan diberikan hadiah oleh gurunya.
b.         Teori Belajar Kognitif
       Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak  selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
       Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhan ke kompleks. Perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan siswa.
       Beberapa tokoh yang berpengaruh dalam teori kognitif sebagai berikut :
1.         Teori Kognitif Gestalt
       Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Peletak dasar teori gestalt adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Kurt Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpase (Suryabrata, 2012). Kaum gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstuktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan. Intinya, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada dengan hukuman dan ganjaran. (Saro, 2012)
2.         Teori Cognitive-Field dari Kurt Lewin
Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar kognitive-field dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana individu bereaksi disebut life space. Life space mencakup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi, misalnya : orang – orang yang dijumpainya, objek material yang ia hadapi serta fungsi kejiwaan yang ia miliki. Jadi menurut Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan sruktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari stuktur medan kognisi itu sendiri, yang lainya dari kebutuhan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari reward (Suryabrata, 2012).
3.         Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing-Theory)
       Teori ini merupakan salah satu teori kognitif tentang belajar yang pertama dan paling berpengaruh (Eggen dan Kauchak,1997). Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menggambarkan pemrosesan, penyimpanan dan perolehan pengetahuan oleh pikiran (Byrnes, 1996 ). Teori yang berakar pada lapangan Arificial Intelegence ( AI ) ini merupakan karya dari Alexandra Lauria (1902-1077) dalam Sukadji (1998).
       Menurut teori ini, belajar adalah menyangkut tentang bagaimana informasi dari lingkungan dapat disimpan dalam memori. Untuk menggambarkan proses tersebut digunakan permodelan. Model proses penyimpanan informasi yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah model yang dikemukakan oleh Atkinson dan Siffrin pada tahun 1968. Model tersebut memiliki tiga komponen mayor, yaitu: penyimpanan informasi ( information store ), proses kognitif ( cognitive process ), dan metakognisi ( metakognition ) ( Eggen dan Kauchak, 1997 ).
4.         Teori Cognitive Developmental dari Jaen Piaget
       Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Pada intinya, perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak dapat belajar dari apa yang telah diketahuinya.
       Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya
            Berdasarkan uraian diatas, Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut yaitu sebagai berikut : (1) Tahap Sensori Motor (dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun), (2) Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun), (3) Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun), (4) Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 tahun) (Santrock, 2008).
5.         Teori Discovery Learning dari Jerome Bruner
       Yang menjadikan dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasi bahan pelajaran yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir yang sesuai dengan tingkat kemajuan anak tersebut. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historian atau ahli matematika. Biarkan murid kita menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti.
6.         Teori Purposive Behaviorism dari Edward Tolman
       Edward Tolman merupakan salah satu tokoh psikologi yang berorientasi kognitif pada teori belajarnya. Teori belajar Tolman adalah salah satu teori belajar dalam psikologi belajar yang populer saat ini. Teori belajar Tolman dikembangkan oleh Edward Chace Tolman dalam Hergenhahn, B.R dan Matthew, H Olson. Menurut Tolman, belajar adalah proses yang berjalan secara konstan dan tidak mewajibkan adanya reinforcement. Tolman mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara proses belajar dengan perilaku yang muncul. Menurut Tolman, variabel yang ada pada pada diri individu yang berpengaruh dalam belajar adalah: heredity, age, previous training, special endrocine, and drug or vitamin conditions. (Minanto, 2011)
       Tolman berusaha menjelaskan perilaku yang diarahkan untuk mendapat tujuan sehingga disebut behaviorisme purposif (purposive behaviorism). Tolman berpendapat bahwa melalui perilaku bertujuan, proses belajar bukanlah sesuatu situasi yang dapat diamati semuanya, tetapi proses nyata dari belajar terdiri dari operasi kognitif yang terpusat.
7.         Teori Attribution dari Weiner
       Attribution teori berkaitan dengan bagaimana individu menginterpretasikan kejadian dan bagaimana hal ini berhubungan dengan pemikiran mereka dan perilaku. Heider (1958) adalah orang pertama yang mengusulkan teori psikologis atribusi, tetapi Weiner dan rekan (misalnya, Jones et al, 1972; Weiner, 1974, 1986) mengembangkan kerangka teoritis yang telah menjadi paradigma penelitian utama dari psikologi sosial. Attribution teori mengasumsikan bahwa orang mencoba untuk menentukan mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan, yaitu, atribut menyebabkan perilaku. Seseorang yang ingin memahami mengapa orang lain melakukan sesuatu yang mungkin atribut satu atau lebih menyebabkan perilaku itu. Sebuah proses tiga-tahap mendasari sebuah atribusi: (1) orang harus melihat atau mengamati perilaku, (2) maka orang harus percaya bahwa perilaku itu sengaja dilakukan, dan (3) maka orang harus menentukan apakah mereka percaya yang lain orang dipaksa untuk melakukan perilaku (dalam hal ini penyebabnya adalah disebabkan keadaan) atau tidak (dalam hal ini penyebabnya adalah dikaitkan dengan orang lain).     (Arjuna, 2011)
       Perkembangan awal teori atribusi Weiner bermula dengan pengenalan empat penyebab pokok yang khas dipilih individu-individu untuk menjelaskan dicapainya keberhasilan dan dialaminya kegagalan dan hubungan konseptual antara akibat –akibat, atau hasil-hasil kerja yang dimilikinya dan tingkah-laku yang terjadi berikutnya. Ada empat penyebab pokok itu adalah kemampuan, usaha, kesulitan tugas, dan kemujuran, yang menjadi inti dari teori Wainer. Yang dikenali kemudian   ialah sifat–sifat atau dimensi–dimensi penyebab pokok itu, demikian dikenali peran reaksi afektif sebagai motivator tingkah-laku (Iskury, 2011).
c.         Teori Belajar Kontruktivis
       Sebenarnya pandangan konstruktivis bukanlah hal baru akan tetapi merupakan penggabungan dari berbagai pendekatan (Bednar, dkk, dalam Duffy dan Jonassen, 1992 ). Fosnot (1996), mengatakan konstrukti-visme adalah teori tentang pengetahuan belajar, yang menguraikan tentang apa itu “ mengetahui ”  (knowing) dan bagaimana seseorang “ menjadi tahu ”  (comes to know). Konstruktivis memandang ilmu pengetahuan bersifat non-objective, temporer dan selalu berubah. Hal ini sesuai dengan pendapat radical constructivist yang menyatakan bahwa pengetahuan ini terbentuk dalam struktur kognisi si pemelajar, bukan berada secara terpisah di luar diri si pemelajar pengetahuan. Pengetahuan selalu mengalami perubahan sejalan dengan proses asimilasi dan akomodasi, karena itu guru harus memberikan kesempatan pada si pemelajar untuk membangun konsep yang akurat tentang pengetahuan tersebut (Rutnel Hart dan Norman dalam Sulton (1998 ). (Khodijah, 2011)
       Menurut Eggen dan Kauchak ( 1997 ), ada empat ciri teori konstriktivis, yaitu: (1) dalam proses belajar, individu mengembangkan pehamaman sendiri, bukan menerima pemahaman dari orang lain, (2) proses belajar sangat tergantung pada pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya, (3) belajar difasilitasi oleh interaksi sosial, dan (4) belajar yang bermakna ( meaningful learning ) timbul dalam tugas-tugas belajar yang otentik.
       Dari berbagai pandangan konstruktivis yang ada, ada dua pandangan yang mendominasi, yaitu individual cognitive cognitivist dan sociocultural constructivist. 
1.         Teori Individual Cognitive Constructivist
       Teori ini dikemukakan oleh Jean Piaget (1997). Teori ini berfokus pada konstruksi internal individu terhadap pengetahuan. Pengetahuan tidak berasal dari lingkungan sosial, akan tetapi interaksi sosial penting sebagai stimulus terjadinya konflik kognitif internal pada individu ( Eggen dan Kauchak (1997). Cognitive constructivist menekankan pada aktivitas belajar yang ditentukan oleh pemelajar dan berorientasi penemuan sendiri. Misalnya, guru matematika yang menggunakan perspektif ini akan berpandangan bahwa anak akan belajar fakta matematika lebih efektif jika mereka menemukan fakta tersebut sendiri atas dasar apa yang telah mereka ketahui, dibandingkan jika fakta tersebut disajikan oleh guru. Dengan demikian, belajar merupakan proses reorganisasi kognitif secara aktif.




2.         Teori Sociocultural Constructivist
       Teori ini dikemukakan oleh Lev Vygotsky (Bruning dkk, 1995 ). Teori ini berpandangan bahwa pengetahuan berada dalam konteks sosial, karenanya ditekankan pentingnya bahasa dalam belajar yang timbul dalam situasi-situasi sosial yang berorientasi pada aktivis ( Eggen dan Kauchak, 1997). Bagi Vygotsky, anak-anak mengonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial (Stetsenko & Arievitch, 2004 dalam Santrock, 2009).
       Teori Vygotsky memiliki empat implikasi pendidikan yang utama (Byrnes, 1996), yaitu:
a.    Guru harus bertindak sebagai scaffold  yang memberikan bimbingan yang cukup untuk membantu anak-anak mencapai kemajuan.
b.    Pembelajaran harus selalu berupaya “ mempercepat ” level penguasaan terkini anak.
c.    Untuk menginternalisasi keterampilan pada anak-anak, pembelajaran harus berkembang dalam empat fase. Pada fase pertama, guru harus menjadi model dan memberikan komentar verbal mengenai apa yang mereka lakukan dan alasanya. Pada fase kedua, siswa harus berupaya mengimitasi apa yang dilakukan guru. Pada fase ketiga, guru harus mengurangi intervensinya secara progresif begitu siswa telah menguasai keterampilan tersebut. Keempat, guru dan siswa secara berulang-ulang mengambil peran secara bergiliran.
d.    Anak-anak perlu berulang-ulang dihadapkan dengan konsep-konsep ilmiah agar konsep spontan mereka menjadi lebih akurat dan umum.
      
      




III.   PENUTUP
A.       Kesimpulan
       Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon.  Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahantingkah laku.  Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian.  Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar.  Karena ia belum dapat menunjukan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
            Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya.  Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.  Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Proses belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.
            Belajar menurut konstruktivis adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan. Pengetahuan bukanlah hasil ”pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan atau diingat dalam setiap individu.           

DAFTAR PUSTAKA
Arjuna. (2011, 12 03). Attribution Theory by Weiner. Retrieved 11 10, 2013, from wordpress.com: http://arjunabelajar.wordpress.com/2011/12/03/attribution-theory-weiner.html
Burning, R., Schraw, G., & Ronning, R. (1995). Cognitive Psychology and Intruction. New Jersey: Prentice Hall.
Byrnes, J. (1997). Conitive Devolpment and Learning in Intructional Contexs. Boston: Allyn and Bacon.
Duffy, T.M. dan Cunninggham, D.J. 1996. Contructivism: Implication for The Design and Delivery of Intruction, dalam  Jonnasen, D.j., Handbook of Research For Educational Communacation And Technology, New York : Simon & Schuuster Macmillan.
Eggen, p dan Kauchack, D., (1997). Educational Pschology Windows on Classrooms, third Edition, USA: Prentice Hall Inc.
Fosnot, Catherine T. (1996). Contructivism: A Psychology Theory Of Learning, Dalam Catherine T. Fosnot (Ed). Contructivism Theory, Perspectives, And Practice, New York: Teachers College, Columbia University.
Iskury. (2011, 07). Teori Belajar Bernard Weiner. Retrieved 11 10, 2013, from blogspot.com: http://iskury-oon.blogspot.com/2011/07/teori-belajar-bernard-weiner.html
Islamuddin, H. (2012). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khodijah, N. (2011). Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.
Lestari, D. (2013, 03). Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Retrieved 11 10, 2013, from blogspot.com: http://biologi-lestari.blogspot.com/2013/03/teori-teori-belajar-dan-pembelajaran.html
Mahmud. (2012, 07). Macam-macam Teori Belajar. Retrieved 11 10, 2013, from blogspot.com: http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/macam-macam-teori-belajar-dan.html
Minanto, A. (2011, 05 12). Teori Belajar Menurut Edward Tolman. Retrieved 11 10, 2013, from blog.spot.com: http;//anasminanto.blog.spot.com/2011/05/teori-belajar-menurut-edward-tolman.html
Rumini, S. (1993). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UPP UNY.
Santrock, J. W. (2008). Educational Psycology. New York. Ed. 3.  Terj. Diana Angelica. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika.
Saputra, A. W. (2012, 03 14). 10 Teori Belajar Menurut Ahli. Retrieved 11 10, 2013, from wordpress.com: http://akirawijayasaputra.wordpress.com/2012/03/14/10-teori-belajar-menurut-ahli/
Saro, Q. (2010, 10). Teori Belajar Kognitif. Retrieved 11 10, 2013, from blog.spot.com: http://qobasaro.blogspot.com/2010/10/teori-belajar-kognitif.html
Suryabrata, S. (2012). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Sukadji, Soetarlinah. (1998). Perkembangan Konsep, Teori Dan Pengukuran Intelegensi, Pidato Pengukuran Jabatan Guru Besar Dalam Bidang Psikologi Pada Fakultas Psikologi UI, 18 November 1998.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar