SEJARAH
SINGKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Boring & Murphy pada tahun 1929
dan Burt pada tahun 1957 memaparkan sejarah psikologi pendidikan secara sempit
yang hanya dapat diimplimentasikan di wilayah Inggris. Penggunaan psikologi
dalam pendidikan telah berlangsung sejak zaman dahulu meskipun istilah
psikologi pendidikan sendiri pada awal pemanfaatannya belum begitu dikenal,
namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akhirnya lahir
dan berkembanglah secara resmi sebuah cabang khusus psikologi yang disebut
psikologi pendidikan.
Menurut David pada
umumnya para ahli memandang bahwa Johann Friedrich Herbart adalah bapak
psikologi pendidikan, beliau adalah seorang filosof dan pengarang kenamaan yang
lahir di Oedenburg, Jerman tanggal 4 Mei 1776. Nama Herbart kemudian diabadikan
sebagai sebuah aliran psikologi yang disebut Herbartianisme pada tahun 1820-an.
Konsep utama pemikiran aliran ini adalah apperceptive mass, sebuah istilah yang
khusus diperuntukkan bagi pengetahuan yang telah dimiliki individu.
Dalam pandangan Herbart
proses belajar-mengajar atau memahami sesuatu bergantung pada pengenalan
individu terhadap hubungan-hubungan antara ide-ide baru dengan pengetahuan yang
telah dia miliki. Aliran ini menurut Reber adalah pendahulu psikoanalisis Freud
dan berpengaruh besar terhadap pemikiran eksperimental Wundt.
Selanjutnya psikologi
pendidikan lebih berkembang pesat di dataran Amerika Serikat, meskipun tanah
kelahirannya adalah di Eropa, kemudian menyebar hingga ke Indonesia. Banyaknya pakar
psikologi dan pendidikan yang berminat mengembangkan cabang ilmu ini terbukti
dari banyaknya fakultas psikologi dan fakultas pendidikan di
universitas-universitas terkenal di dunia yang membuka jurusan atau
spesialisasi keahlian psikologi pendidikan dengan fasilitas belajar yang
lengkap dan modern.
Kenyataan lainnya
adalah semakin banyaknya ragam cabang psikologi dan aliran pemikiran psikologis
yang turut berkiprah dalam riset-riset psikologi pendidikan. Cabang dan aliran
psikologi silih berganti menanamkan pengaruhnya terhadap psikologi pendidikan,
diantaranya yang paling menonjol adalah :
1. Humanisme dengan tokoh utama J. J.
Rousseau, Abraham Maslow, dan Carl Rogers.
2. Behaviorisme dengan tokoh utama J. B.
Watson, E. L. Thorndike, dan B. F. Skinner.
3. Kognitif dengan tokoh utama Jean Piaget,
J. Bruner, dan D. Ausubel.
Pendidikan adalah studi
ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi Pendidikan adalah cabang
ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan
pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Latar Belakang Historis
Bidang Psikologi
Pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad
ke 20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi
pendidikan.
William James.
Tidak lama setelah
meluncurkan buku ajar psikologinya yang pertama, Principles of Psychology
(1980), William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah yang berjudul
“Talks to Teacher” (James 1899)/1993). Dalam kuliah ini dia mendiskusikan
aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen
psikologi di laboratorium seringkali tidak bisa menjelaskan kepada kita
bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya
mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu
pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang
sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan
tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran.
John Dewey
Tokoh kedua yang
berperan besar dalam membentuk psikologi pendidikan adalah John Dewey
(1859-1952). Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi
ditingkat praktis. Dewey membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di
AS, di Universitas Chicago, pada tahun 1894.
Dewey memberikan
pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner), ia juga
percaya bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif..
Dewey juga memberikan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak
secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan
lingkungannya. Ia percaya bahwa anak-anak tidak seharusnya mendapat pelajaran
akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi
dengan dunia di luar sekolah. Menurutnya anak-anak harus belajar agar mampu
memcahkan masalah secara reflektif. Menurut Dewey semua anak berhak mendapat
pendidikan yang selayaknya
E.L.Thorndike.
Perintis ketiga adalah
E.L.Thorndike (1874-1949), yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan
pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Thorndike
berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting
adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan
studi belajar dan mengajar secara ilmiah (Beatty, 1998). Thorndike mengajukan
gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus
pada pengukuran (O’Donnell & Levin, 2001).
Diversitas dan
Psikologi Pendidikan
Tokoh yang paling
menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit
putih, seperti James, Dewey. Dan
Thorndike. Sebelum adanya perubahan undang-undang dan kebijakan hak-haksipil
pada 1960-an, hanya ada sedikit tokoh non-Kulit Putih yang berhasil mendapat
gelar dan bisa menembus rintangan diskriminasi rasial untuk melakukan riset di
bidang ini (Banks, 1998). Dua tokoh Amerika keturunan Afrika yang menonjol di
bidang psikologi pendidikan adalah Mamie dan Kenneth Clark, yang melakukan
riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Afrika-Amerika.
Perkembangan Lebih
Lanjut
Dalam ilmu pskologi
Amerika, pandangan B.F.Skinner (1938), yang didasarkan pad aide-ide Thorndike,
sangat mempengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. Pada tahun
1950-an, Skinner (1954) mengembangkan konsep programmed learning (pembelajaran
terprogram) yaitu setelah murid melalui serangkaian langkah ia terus didorong
untuk mencapai tujuan dari pembelajaran.
Akan tetapi muncul
keberatan terhadap pendekatan behavioral yang dianggap tidak memperdulikan
banyak tujuan dan kebutuhan pendidik di kelas (Hilgard, 1996). Sebagai
reaksinya, pada tahun 1950-an Benjamin Bloom menciptakan taksonomi keahlian
kognitif yang mencakup pengingatan, pemahaman, synthesizing dan pengevaluasian,
yang menurutnya harus dipakai dan dikembangkan oleh guru untuk membantu
murid-muridnya (Bloom & Krathwol, 1956).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar