Selasa, 26 November 2013

PSIKOLOGI PENDIDIKAN



SEJARAH SINGKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN

            Boring & Murphy pada tahun 1929 dan Burt pada tahun 1957 memaparkan sejarah psikologi pendidikan secara sempit yang hanya dapat diimplimentasikan di wilayah Inggris. Penggunaan psikologi dalam pendidikan telah berlangsung sejak zaman dahulu meskipun istilah psikologi pendidikan sendiri pada awal pemanfaatannya belum begitu dikenal, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akhirnya lahir dan berkembanglah secara resmi sebuah cabang khusus psikologi yang disebut psikologi pendidikan.
Menurut David pada umumnya para ahli memandang bahwa Johann Friedrich Herbart adalah bapak psikologi pendidikan, beliau adalah seorang filosof dan pengarang kenamaan yang lahir di Oedenburg, Jerman tanggal 4 Mei 1776. Nama Herbart kemudian diabadikan sebagai sebuah aliran psikologi yang disebut Herbartianisme pada tahun 1820-an. Konsep utama pemikiran aliran ini adalah apperceptive mass, sebuah istilah yang khusus diperuntukkan bagi pengetahuan yang telah dimiliki individu.
Dalam pandangan Herbart proses belajar-mengajar atau memahami sesuatu bergantung pada pengenalan individu terhadap hubungan-hubungan antara ide-ide baru dengan pengetahuan yang telah dia miliki. Aliran ini menurut Reber adalah pendahulu psikoanalisis Freud dan berpengaruh besar terhadap pemikiran eksperimental Wundt.
Selanjutnya psikologi pendidikan lebih berkembang pesat di dataran Amerika Serikat, meskipun tanah kelahirannya adalah di Eropa, kemudian menyebar hingga ke Indonesia. Banyaknya pakar psikologi dan pendidikan yang berminat mengembangkan cabang ilmu ini terbukti dari banyaknya fakultas psikologi dan fakultas pendidikan di universitas-universitas terkenal di dunia yang membuka jurusan atau spesialisasi keahlian psikologi pendidikan dengan fasilitas belajar yang lengkap dan modern.
Kenyataan lainnya adalah semakin banyaknya ragam cabang psikologi dan aliran pemikiran psikologis yang turut berkiprah dalam riset-riset psikologi pendidikan. Cabang dan aliran psikologi silih berganti menanamkan pengaruhnya terhadap psikologi pendidikan, diantaranya yang paling menonjol adalah :
1.      Humanisme dengan tokoh utama J. J. Rousseau, Abraham Maslow, dan Carl Rogers.
2.      Behaviorisme dengan tokoh utama J. B. Watson, E. L. Thorndike, dan B. F. Skinner.
3.      Kognitif dengan tokoh utama Jean Piaget, J. Bruner, dan D. Ausubel.

Pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi Pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Latar Belakang Historis
Bidang Psikologi Pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke 20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan.
          
William James.
Tidak lama setelah meluncurkan buku ajar psikologinya yang pertama, Principles of Psychology (1980), William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah yang berjudul “Talks to Teacher” (James 1899)/1993). Dalam kuliah ini dia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium seringkali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran.

John Dewey
Tokoh kedua yang berperan besar dalam membentuk psikologi pendidikan adalah John Dewey (1859-1952). Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi ditingkat praktis. Dewey membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di AS, di Universitas Chicago, pada tahun 1894.
Dewey memberikan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner), ia juga percaya bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif.. Dewey juga memberikan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Ia percaya bahwa anak-anak tidak seharusnya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah. Menurutnya anak-anak harus belajar agar mampu memcahkan masalah secara reflektif. Menurut Dewey semua anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya

E.L.Thorndike.
Perintis ketiga adalah E.L.Thorndike (1874-1949), yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dan perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah (Beatty, 1998). Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran (O’Donnell & Levin, 2001).

Diversitas dan Psikologi Pendidikan
Tokoh yang paling menonjol dalam sejarah awal psikologi pendidikan kebanyakan adalah pria kulit putih, seperti  James, Dewey. Dan Thorndike. Sebelum adanya perubahan undang-undang dan kebijakan hak-haksipil pada 1960-an, hanya ada sedikit tokoh non-Kulit Putih yang berhasil mendapat gelar dan bisa menembus rintangan diskriminasi rasial untuk melakukan riset di bidang ini (Banks, 1998). Dua tokoh Amerika keturunan Afrika yang menonjol di bidang psikologi pendidikan adalah Mamie dan Kenneth Clark, yang melakukan riset tentang identitas dan konsep diri anak-anak Afrika-Amerika.

Perkembangan Lebih Lanjut
Dalam ilmu pskologi Amerika, pandangan B.F.Skinner (1938), yang didasarkan pad aide-ide Thorndike, sangat mempengaruhi psikologi pendidikan pada pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1950-an, Skinner (1954) mengembangkan konsep programmed learning (pembelajaran terprogram) yaitu setelah murid melalui serangkaian langkah ia terus didorong untuk mencapai tujuan dari pembelajaran.
Akan tetapi muncul keberatan terhadap pendekatan behavioral yang dianggap tidak memperdulikan banyak tujuan dan kebutuhan pendidik di kelas (Hilgard, 1996). Sebagai reaksinya, pada tahun 1950-an Benjamin Bloom menciptakan taksonomi keahlian kognitif yang mencakup pengingatan, pemahaman, synthesizing dan pengevaluasian, yang menurutnya harus dipakai dan dikembangkan oleh guru untuk membantu murid-muridnya (Bloom & Krathwol, 1956).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar