METODOLOGI
PENELITIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan selalu melibatkan kejiwaan
manusia, sehingga landasan psikologi merupakan salah satu landasan yang penting
dalam bidang pendidikan. Orang-orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan
bahwa dengan mengetahui teori-teori Psikologi Pendidikan dan menerapkan
hasil-hasil penelitian psikologi di bidang pendidikan akan memberikan dampak
yang positif terhadap proses dan hasil pendidikan yang dilaksanakan.
Metode penyelidikan dalam suatu ilmu
merupakan keharusan mutlak. Apalagi kalau ilmu itu telah berdiri sendiri, ini
harus ditandai oleh metode-metode tersendiri untuk menyelidiki terhadap
obyeknya. Obyek psikologi adalah penghayatan dan perbuatan manusia, yaitu
perbuatan manusia dalam alam yang kompleks dan selalu berubah. Jiwa bukanlah
benda yang mati, tetapi sesuatu yang hidup dinamis selalu berubah untuk menjadi
kesempurnaannya. Oleh karena itu penggunaan sesuatu metode yang tumbuh baiknya
pun tak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak. Sebab dalam berbagai metode
mempunyai titik kelemahan-kelemahan di samping kebaikan-kebaikannya.
Selain mempunyai objek tersendiri,
psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri, juga mempunyai metode untuk mendapatkan
fakta, kesimpulan, dugaan, hipotesis, teori dan dalil-dalil baru untuk
memajukan, mengembangkan atau mengadakan pengujian dan pembuktian. Pekerjaan
ilmiah dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan kesangsian, memperoleh
kebenaran dan ketetapan dalam memahami dan meramalkan tingkah laku individu
khususnya dalam dunia kependidikan. Dengan metode-metode ilmiah, kita berusaha
menetapkan validasi atau derajat ketepatan peryataan, hipotesis, teori ataupun
dali-dalil mengenai tingkah laku manusia melalui penilaian bukti-bukti yang
objektif.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas maka didapat
rumusan masalah sebagai berikut :
a. Apakah
metode penelitian itu?
b. Apa
saja metode-metode penelitian yang
digunakan dalam psikologi pendidikan?
C. Tujuan
a. Memahami
pengertian metode penelitian.
b. Mengetahui
metode-metode yang digunakan dalam psikologi pendidikan.
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian
Metode Penelitian
Istilah metode penelitian terdiri atas dua
kata, yaitu kata metode dan kata penelitian. Kata metode berasal dari bahasa
Yunani yaitu methodos yang berarti cara atau menuju suatu jalan. Metode
merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis)
untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk
menemukan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya
(Rosady, 2003). Adapun pengertian penelitian adalah suatu proses pengumpulan
dan analisis data yang dilakukan secara sistematis, untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Pengumpulan dan analisis data dilakukan secara ilmiah,
baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif, eksperimental maupun non
eksperimental, interaktif maupun non interaktif (Sukmadinata, 2005).
Penelitian tidak lain adalah art and
science guna mencari jawaban terhadap suatu permasalahan (Yoseph dan
Yoseph, 1979). Karena seni dan ilmiah maka penelitian juga akan memberikan
ruang-ruang yang akan mengakomodasi adanya perbedaan tentang apa yang dimaksud
dengan penelitian.
Penelitian dapat pula diartikan sebagai
cara pengamatan atau inkuiri dan mempunyai tujuan untuk mencari jawaban
permasalahan atau proses penemuan. Baik itu discovery maupun invention.
Discovery diartikan hasil temuan yang memang sebetulnya sudah ada, sebagai
contoh misalnya penemuan benua amerika adalah penemuan yang cocok untuk arti discovery.
Sedangkan invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian
yang betul-betul baru dengan dukungan fakta. Misalnya hasil cloning dari hewan
yang sudah mati dan dinyatakan punah, kemudian diteliti untuk menemukan jenis
yang baru.
Penelitian adalah proses dan intensif
karena mereka terikat dengan aturan, urutan, maupun cara penyajiannya agar
memperoleh hasil yang diakui dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Intensif
dengan menerapkan ketelitian dan ketepatan dalam melakukan proses penelitian
agar memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, memecahkan problem
melalui hubungan sebab dan akibat, dapat diulang kembali dengan cara yang sama
dan hasil sama. (Sukardi, 2003)
Penelitian menurut Kerlinger (1986) dalam
Sukardi (2003) ialah proses penemuan yang mempunyai karakteristik yang
sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau
jawaban sementara. Beberapa karakteristik penelitian sengaja ditekankan oleh
Kerlinger agar kegiatan penelitian memang berbeda dengan kegiatan profesional
lainnya. Penelitian berbeda dengan kegiatan yang menyangkut tugas-tugas
wartawan yang biasa meliput dan melaporkan berita atas dasar fakta. Perkerjaan
mereka belum dikatakan penelitian, karena tidak dilengkapi karakteristik lain
yang mendukung teori yang ada dan relevan dan dilakukan secara intensif dan
dikontrol dalam pelaksanaannya.
Secara luas Sugiyono (2009) menyatakan
metode penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid,
dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan, suatu pengetahuan
tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan,
dan mengantisipasi masalah.
Dari beberapa pendapat di atas jelas
kiranya bahwa setiap orang pada prinsipnya akan memberikan pengertian tentang
penelitian yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut biasanya tergantung dengan
beberapa faktor seperti di antaranya: latar belakang pengetahuan seseorang,
kehidupan seseorang, dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa penelitian tidak
lain adalah usaha seseorang yang dilakukan secara sistematis mengikuti
aturan-aturan metodologi misalnya observasi secara sistematis, dikontrol, dan
berdasarkan pada teori yang ada dan diperkuat dengan gejala yang ada.
Sedangkan, metode penelitian adalah
suatu cara untuk memecahkan masalah ataupun cara mengembangkan ilmu pengetahuan
dengan menggunakan metode ilmiah.
B. Metode
Penelitian Dalam Psikologi Pendidikan.
Seperti halnya penelitian-penelitian dalam
bidang ilmu sosial lainya, pendekatan penelitian yang biasa digunakan dalam
psikologi pendidikan ada dua, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.
Menurut Creswell dalam Khodijah (2011) pendekatan kuantitatif adalah penelitian
yang bekerja dengan angka, yang datanya berwujud bilangan (skor atau nilai,
peringkat atau frekuensi), yang dianalisis dengan menggunakan statistik untuk
menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik dan untuk
melakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu mempengaruhi variabel yang
lain.
Menurut Denzin dan Lincoln dalam Khodijah (2011)
sedangkan, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar
alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan
jalan melibatkan berbagai metode. Menurut Moleong dalam Khodijah (2011),
penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tantang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan dll.Secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Metode penelitian dalam psikologi
pendidikan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan metode penelitian yang
digunakan dalam cabang-cabang psikologi lainya. Menurut Walgito, dalam Khodijah
(2011) metode yang pertama-tama digunakan dalam lapangan psikologi adalah spekulasi.
Namun dengan berdirinya psikologi sebagai sebuah ilmu yang didasarkan pada
pengalaman-pengalaman empiris, maka saat ini metode yang digunakan dalam
penelitian-penelitian psikologi sudah cukup banyak dan beragam. Secara garis
besar, metode penelitian yang biasa digunakan dalam psikologi khususnya
psiklogi pendidikan adalah :
1. Metode Longitudinal
Yaitu metode penelitian yang dilakukan
dengan mengumpulkan data tentang subjek yang sama secara berulang-ulang dengan
rentang waktu yang panjang. Dengan demikian, metode ini membutuhkan waktu yang
relatif lama untuk mencapai suatu hasil penelitian. Hal ini karena metode ini
dilakukan hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan mungkin tahun demi tahun,
dengan menyelidiki semua urutan kejadian. Metode penelitian ini biasa digunakan
untuk mempelajari perkembangan manusia.
2. Metode Cross-sectional
Yaitu metode penelitian yang dilakukan
dengan mengumpulkan data pada suatu titik wilayah dan sempel yang terdiri dari
satu atau lebih kelompok yang dibandingkan variabelnya. Dengan demikian metode
ini merupakan kebalikan dari metode longitudinal, karena tidak membutuhkan
waktu yang terlalu lama. Dalam waktu yang relatif singkat dapat mengumpulkan
data yang banyak.
Secara rinci, dilihat dari pendekatan
penelitian yang digunakan, metode penelitian yang biasa digunakan dalam
psikologi pendidikan, yaitu:
1. Penelitian historis
Seperti namanya, penelitian historis
bertujuan mempelajari, memahami dan menjelaskan peristiwa-peristiwa masa lalu.
Tujuan utama penelitian historis adalah untuk merumuskan kesimpulan tentang
sebab-sebab, efek-efek, atau kecenderungan-kecenderungan peristiwa masa lalu
yang membantu untuk menjelaskan kejadian-kejadian saat ini atau meng-antisipasi
peristiwa-peristiwa masa lalu yang akan datang.
2. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian
yang bertujuan menguji dan melaporkan segala sesuatu secara apa adanya dalam
upaya memahami dan menjelaskanya. Dalam tipe penelitian ini, peneliti
mengumpulkan data untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang
berkaitan dengan kondisi beberapa isu atau masalah. Instrumen-instrumen seperti
survei, angket wawancara dan observasi dikembangkan untuk tipe penelitian ini.
Penelitian ini merupakan salah satu contoh penelitian kualitatif.
3. Penelitian korelasional
Penelitian korelasional adalah penelitian
dimana peneliti berupaya untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara dua
variabel atu lebih. Variabel-variabel tersebut adalah rentang karaktaristik
manusia, seperti tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, intelegensi dan
sebagainya. Namun jika ditemukan adanya hubungan antara dua variabel berarti
bahwa satu variabel mempengaruhi variabel yang lain.
Tingkat hubungan antara dua variabel atau
lebih itu biasanya ditunjukan dengan koefisien korelasi ( r ) antara 0,00 (
tidak ada korelasi ) hingga 1,00 ( korelasi yang paling signifikan ). Korelasi
antar dua variabel juga dapat negatif, misalnya jika skor yang tinggi dari satu
variabel dipasangkan dengan skor yang rendah dari variabel lainya. Semakin
dekat angka koefisien korelasi dengan angka 1,00 semakin mudah diprediksi
korelasinya.
4. Penelitian komparatif
Penelitian komparatif adalah suatu
pendekatan penelitian dimana peneliti bertujuan untuk mencari hubungan langsung
diantara variabel-variabel yang dibandingkan satu sama lain. Dalam pendekatan
penelitian ini, peneliti harus berupaya membandingkan kelompok-kelompok yang
berbeda.
5. Penelitian eksperimental
Dalam bentuk penelitian ini, peneliti
secara aktif memanipulasi sebuah variabel independen untuk mengamati perubahan-perubahan
pada variabel independennya. Dengan kata lain, peneliti dengan sengaja
mengenakan perlakuan atau treatment, yang ingin diketahui akibat dari treatment
tersebut. Prinsip dalam eksperimen ialah ingin mengetahui efek sesuatu
perlakuan yang dikenakan oleh peneliti terhadap keadaan yang dikenainya. Selain
perlakuan, dalam eksperimen juga diperlukan adanya kontrol untuk dapat
mengontrol apakah perubahan yang ada betul-betul sebagi akibat dari adanya
perlakuan tersebut. Karena itu dalam eksperimen diperlukan adanya kelompok
kontrol disamping adanya kelompok eksperimen.
Dari berbagai metode penelitian yang
berbeda-beda tersebut juga digunakan teknik dan prosedur pengumpulan data yang
berbeda-beda. Teknik-teknik tersebut antara lain: angket, wawancara, observasi.
1. Angket
Angket atau disebut juga dengan
kuesioner adalah teknik pengumpulan data melalui pemberian daftar pertanyaan
yang disusun secara sistematis sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik ini
merupakan salah satu teknik yang berdasarkan pada laporan tentang diri sendiri
atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan
pribadi. Dilihat dari subjek yang mengisinya, ada dua jenis angket, yaitu:
a. Angket langsung, yang dikirim langsung kepada
orang yang ingin dimintai pendapat, keyakinanya, dan diminta menceritakan
tentang keadaan dirinya sendiri, dan
b. Angket tidak langsung, yang dikirim pada
seseorang untuk diminta menceritakan tentang keadaan
orang lain.
Selain itu, menurut jenis penyusunan item-itemnya,
angket terbagi dua (Hadipranata, 2000 ), yaitu:
a. Angket tipe isian, yaitu angket yang berisikan
item-item yang diajukan dalam bentuk pertanyaan komentar terhadap suatu
kejadian atau keadaan. Jenis angket ini terbagi lagi menjadi: (1) angket bentuk
terbuka (open form questionneaire) dan (2) angket tertutup (close form
quetionnaire)
b. Angket tipe pilihan, yaitu angket yang hanya
meminta responden untuk memilih salah satu jawaban atau lebih dari
alternatif-alternatif jawaban yang disediakan.
2. Interviu / wawancara
Interviu adalah metode pengumpulan data
dengan jalan tanya jawab antara dua pihak (pencari informasi dan pemberi
informasi). Prosedur wawancara melibatkan situasi face to face dimana
pewawancara menanyakan sejumlah pertanyaan kepada orang lain guna memperoleh
jawaban yang relevan dengan tujuan wawancara. Teknik ini juga didasarkan pada
sellf-report. Untuk memperoleh data yang seakurat mungkin, seorang peneliti
(interviewer) harus menjalin hubungan yang baik dengan orang yang di interviu
(interviwee). Untuk itu seorang interviewer harus bersedia mengorbankan
sebagian waktu interviunya untuk mengantarkan interaksi ke dalam situasi
interviu. Ada dua jenis interviu, yaitu:
a. Interviu terstruktur, disebut juga interviu
terpimpin, guided interviu, controlled interviu, dimana interviewer mengajukan
pertanyaan yang sudah tersusun sedemikian rupa, dan
b. Interviu tidak terstruktur, disebut juga
interviu terpimpin, unguided interviu, uncontrolled interviu, dimana
interviewer diberi kebebasan sepenuhnya tentang apa yang akan ditanyakan.
3. Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan
data dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematik fenomena-fenomena
yang diteliti. Akan tetapi, penggunaan teknik observasi sangat tergantung pada
situasi dimana observasi dilakukan. Untuk itu, ada tiga teknik observasi yang
masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan tertentu, yaitu: (a)
observasi partisipan, (b) observasi sistematik, (c) observasi eksperimental (Hadipranata,
2000).
a. Observasi partisipan
Dalam teknik observasi ini, observer turut
ambil bagian dalam kehidupan orang atau kelompok orang yang diobservasi. Teknik
ini umumnya digunakan untuk penelitian yang sifatnya eksploratif.
b. Observasi sistematik
Disebut juga observasi terstruktur,
dicirikan dengan adanya kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah diatur
kategorisasinya terlebih dahulu, dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor
dalam kategori-kategori itu juga telah diatur. Ketelitian yang tinggi pada
teknik observasi ini memungkinkan peneliti untuk melakukan “ kuantifikasi ” terhadap hasil observasi.
Artinya jenis gejala atau perilaku yang diamati dapat dihitung atau
ditabulasikan.
c. Observasi eksperimental
Dalam observasi eksperimental, selain
melakukan observasi, observer juga berupaya mengendalikan jalanya situasi agar
sesuai dengan tujuan penelitian dan terhindar dari faktor-faktor yang tidak
diharapkan mempengaruhi situasi tersebut. Secara kongkrit ciri-ciri teknik
observasi ini (Cronbach, dalam Hadipranata, 2000 ) adalah:
1) Observer dihadapkan pada situasi stimulus yang
dibuat seseragam mungkin untuk semua observees (orang yang diobservasi ).
2) Situasi dibuat sedemikian rupa untuk
memungkinkan variasi timbulnya perilaku yang akan diamati oleh observer.
3) Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga
observees tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari observasi.
4) Observer membuat catatan dengan teliti
mengenai cara-cara observees mengadakan aksi-reaksi, bukan hanya jumlah
aksi-reaksi semata.
Agar hasil observasi dapat terekam dengan
baik, ada beberapa macam alat yang dapat digunakan, diantaranya ialah: (a)
anecdotal records, (b) catatan berkala, (c) check list, (d) rating scaledan (e)
mechanical devices. (Hadipranata, 2000 ).
Menurut Santrock (2009) ada tiga metode
dasar yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dalam psikologi pendidikan
adalah deskriptif, korelasional, dan eksperimental.
1. Penelitian
deskriptif
Penelitian deskriptif mempunyai tujuan
mengamati dan merekam prilaku. Sebagai contoh, seorang psikolog pendidikan
mungkin mengamati sejauh mana anak-anak bersikap agresif di dalam kelas atau
mewawancarai para guru tentang sikap mereka terhadap satu jenis strategi
mengajar tertentu. Dengan sendirinya, penelitian deskriptif tidak bisa membuktikan
apa yang menyebabkan beberapa fenomena, tetapi penelitian ini bisa
memperlihatkan informasi penting tentang prilaku dan sikap orang-orang.
(Lammers & Badia, 2005; Leary, 2004)
Penelitian deskriptif menggunakan
observasi, wawancara dan kuesioner, tes terstandarisasi, studi kasus, studi
etnografis.
2. Penelitian
korelasional
Tujuan penelitian korelasional adalah untuk
mendeskripsikan kekuatan hubungan antara dua atau lebih peristiwa atau sifat.
Penelitian korelasional sangatlah bermanfaat karena semakin kuat dua peristiwa
berkorelasi (berhubungan atau keterkaitan), semakin efektif kita bisa
mempredeksikan satu dari yang lain. (Sprinthall, 2007). Sebagai contoh, apabila
para peneliti mengetahui bahwa para pengajar yang permisif dan kurang
melibatkan siswa mungkin salah satu penyebab kurangnya pengendalian diri.
Namun, korelasi itu sendiri tidak sama dengan
hubungan sebab akibat (Vogt, 2007). Penemuan korelasional yang baru saja
disebutkan tidak berarti bahwa pengajaran yang permisif selalu menyebabkan
pengendalian siswa yang rendah.
3. Penelitian
eksperimental
Penelitian eksperimental memungkinkan para
psikolog pendidikan untuk menentukan sebab-sebab prilaku. Psikolog pendidikan
menyelesaikan tuga ini dengan melakukan sebuah eksperimen, sebuah
prosedur yang diatur dengan seksama di mana satu atau lebih dari faktor-faktor
yang diyakini mempengaruhi perilaku, dipelajari dengan cara dimanipulasi dan
semua faktor yang lain tetep sama. Apabila perilaku yang sedang dipelajari
berubah ketika semua faktor dimanipulasi, kita berkata bahwa faktor yang
dimanipulasi menyebabkan perilaku tersebut berubah.
Eksperimen melibatkan setidaknya satu
variabel independen dan satu variabel dependen. Variabel independen adalah
faktor yang dimanipulasi, eksperimental, dan berpengaruh. Variabel dependen
adalah faktor yang diukur dalam sebuah eksperimen.
Menurut H. Carl Wrtherington, dalam bukunya
“Educational Psychology” bahwa metode-metode pokok dalam psikologi
pendidikan adalah: (Nursaid, 2013)
1. Metode Experimental
Istilah eksperimen (percobaan) dalam
psikologi, dapat diartikan sebagai suatu pengamatan secara teliti terhadap
gejala-gejala jiwa yang kita timbulkan dengan sengaja. Hal ini dimaksudkan
untuk menguji hipotesa pembuat eksperimen tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok
dalam situasi tertentu atau di bawah kondisi tertentu. Tujuan metode eksperimen
adalah untuk mengetahui sifat-sifat umum dalam gejala kejiwaan. Misalnya
mengenai pikiran, perasaan, kemauan, ingatan, dan lain sebagainya.
(Shalahuddin, 1990). Teknis pelaksanaannya disesuaikan dengan data yang akan
diangkat, misalnya data pendengaran siswa, penglihatan siswa, dan gerak mata
siswa ketika sedang membaca, alat utama yang biasa dipakai adalah komputer
dengan berbagai programnya seperti program cognitive psychology test,
metode ini biasanya sebagai pilihan utama terutama dalam riset-riset.
Dalam penelitian eksperimental, objek yang
akan diteliti dibagi menjadi dua kelompok, yakni: 1. Kelompok percobaan
(eksperimental group); 2. Kelompok pembanding (control group) kedua kelompok
pada akhir riset hasilnya akan dibandingkan lalu dianalisis, ditafsirkan, dan
disimpulkan dengan teknik statistis tertentu.
Menurut Robert E. Slavin dalam buku
Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik, metode eksperimen dibagi menjadi dua,
yaitu metode eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan yang diacak
(Slavin, 2008). Eksperimen lab (lab experiments) merupakan desain eksperimen
yang diatur dalam suatu lingkungan tiruan di mana kontrol dan manipulasi
diberikan untuk membuktikan hubungan sebab akibat di antara variabel yang
diminati peneliti. Sementara eksperimen lapangan (fields experiments) merupakan
eksperimen yang dilakukan untuk mendeteksi hubungan sebab akibat dalam
lingkungan alami dimana peristiwa terjadi secara normal.
2. Metode Questionare
Metode kuesioner lazim juga disebut metode
surat-menyurat. Kuesioner disebut “mail survey” karena pelaksanaan
penyebaran dan pengembaliannya sering dikirimkan ke dan dari responden melalui
jasa pos, selain lebih hemat biaya dan juga lebih banyak unit yang bisa
dijangkau.
Sebelum kuisioner disebarkan kepada
koresponden yang sesungguhnya, seorang peneliti psikologi biasanya melakukan
uji coba. Dengan menggunakan sampel yang sama dengan calon koresponden yang
sesungguhnya. Tujuannya memastikan apakah pertanyaan cukup jelas dan relevan
untuk dijawab, dan masukan yang bermanfaat.
Adapun
keistimewaan metode ini antara lain adalah:
a.
Tidak terlalu memakan biaya.
b.
Bahwa dengan metode ini, dalam waktu yang relatif singkat dapat mengumpulkan data
yang banyak.
Adapun kelemahannya antara lain terletak
pada kebenaran jawaban yang kadang-kadang menyangsikan. (Shalahuddin, 1990)
3. Metode Klinis
Menurut James Drawer dalam kamus “The
Penguin Dictionary of Psychology”, istilah “clinic” dapat diartikan
sebagai tempat diagnosa dan pengobatan berbagai gangguan, fisik, perkembangan
atau kelakuan. Dengan demikian metode klinis ialah jenis metode dalam psikologi
yang berusaha menyelidiki sejumlah individu yang memiliki kelainan-kelainan
secara teliti dan intensif serta dalam batas waktu yang lama. (Shalahuddin,
1990)
Ada beberapa macam cara dalam metode klinis
yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, diantaranya:
a.
Studi kasus klinis: digunakan untuk menyelesaikan masalah disamping kesukaran
belajar, gangguan emosional, juga untuk masalah kenakalan remaja.
b.
Studi kasus perkembangan: digunakan untuk mengetahui bagaimana jalannya
perkembangan dari satu aspek ke aspek tertentu.
c.
Cara longitudinal: Penelitian ini dilakukan secara terus menerus dalam jangka
waktu tertentu pada subjek yang sama.
d.
Cara cross sectional: Penelitian ini dilakukan dengan cara memakai
sampel-sampel yang mengawakili usia anak yang ingin diteliti (misal pada contoh
di atas, kita menggunakan sekelompok anak usia 6;00 untuk mengetahui emosi anak
usia 6;00, sekolompok anak usia 6;06 untuk mengetahui emosi anak usia 6;06,
sekelompok anak usia 7;00 untuk mengetahui emosi anak usia 7;00, dan seterusnya
sampai akhirnya kita ambil sampel dari sekelompok anak usia 9;00 untuk
mengetahui emosi anak usia 9;00. Dari kelompok-kelompok tersebut dapat diambil
kesimpulan perkembangan emosi setiap tingkat usia dapat disimpulkan
perkembangan emosi anak usia 6;00 sampai 9;00. (Prabowo & Puspitasari dalam
Gunadarma, 2002)
4. Metode Case Study
Metode case study atau studi kasus adalah
suatu catatan tentang pengalaman seseorang, penyakit yang pernah diderita,
pendidikan, lingkungan, perawatan dan pada umumnya juga semua fakta yang
relevan untuk masalah-masalah tertentu yang tersangkut dalam suatu kasus medis
atau klinik.
Metode ini dapat berhasil dengan baik
apabila observasi dan pencatatan-pencatatan data-datanya dilakukan dengan
sebaik-baiknya. Adapun yang di observasi dan dicatat adalah data tingkah
lakunya bukan interpretasi dari kelakuan tersebut. (Shalahuddin, 1990)
5. Metode Introspeksi
Merupakan metode penelitian dengan cara
melakukan pengamatan ke dalam diri sendiri yaitu dengan melihat keadaan mental
pada waktu tertentu. Metode ini dipakai dan dikembangkan dalam disiplin psikologi
oleh kelompok strukturaklisme (Wilhem Wundt). Mereka mendefinisikan psikologi
sebagai ilmu yang mempelajari tentang pengalaman-pengalaman sadar individu.
Menurut mereka introspeksi dapat dipakai untuk mengetahui proses mental yang
sedang berlangsung pada diri seseorang, sebagaimana pikiran, perasaan,
motif-motif yang ada pada dirinya pada waktu tertentu. Disini individu
mengamati proses mental, menganalisis, dan kemudian melaporkan perasaan yang
ada dalam dirinya. (Prabowo & Puspitasari dalam Gunadarma, 2002)
Menurut McMillan dan Schumacher (2001) dalam
Haryanto (2012) memberikan pemahaman tentang metode penelitian dengan
mengelompokkannya dalam dua tipe utama yaitu kuantitatif dan kualitatif yang
masing-masing terdiri atas beberapa jenis metode sebagaimana ditunjukkan pada
tabel berikut :
|
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
||
|
Experimen
|
Non
Experimen
|
Interaktif
|
Non
Interaktif
|
|
True
Experiment
|
Deskriptif
|
Etnogfari
|
Analisis
Konsep
|
|
Quasi
Experiment
|
Komparatif
|
Fenomenologis
|
Analisis
Sejarah
|
|
Subjek
Tunggal
|
Korelasi
|
Studi
Kasus
|
|
|
Survei
|
Teori
Dasar
|
||
|
Ex
Post Facto
|
Studi
Kritis
|
||
Menurut Sukardi (2003), secara garis besar
penelitian dapat dibedakan dari beberapa aspek bagaimana suatu bentuk
penelitian dilihat dan dibedakan. Beberapa aspek tinjauan tersebut termasuk :
aspek tujuan, aspek metode, dan aspek bidang kajian. Tapi penulis pada kesempatan
ini hanya akan membahas klasifikasi penelitian menurut aspek metode.
Beberapa bentuk penelitian dilihat dari
segi metode yaitu sebagai berikut :
a. Penelitian
deskriptif. Pada penelitian deskriptif ini, para peneliti berusaha
menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara
jelas dan sistematis. Penelitian ini juga disebut penelitian praeksperimen.
b. Penelitian
sejarah. Penelitian sejarah atau historical research ini juga dilihat
sepintas sama dengan penelitian deskriptif. Keduanya sama-sama menggunakan
penggambaran secara komprehensif tentang objek atau subjek penelitian. Yang
membedakan dalam penelitian sejarah, peneliti lebih memfokuskan pencarian data
dengan metode wawancara pada masyarakat pelaku sejarah.
c. Penelitian
survei. Bentuk penelitian ini sering pula disebut sebagai penelitian normatif
atau penelitian status. Penelitian survei pada umumnya tidak membatasi dengan
satu atau beberapa variabel.
d. Penelitian
ex-postfacto. Penelitian ini disebut penelitian ex-postfacto
karena para peneliti berhubungan dengan variabel yang telah terjadi dan mereka
tidak perlu memberikan perlakuan terhadap variabel yang diteliti.
e. Penelitian
eksperimen. Penelitain eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian
yang ada. Karena dalam penelitian eksperimen para peneliti melakukan tiga
persyaratan dari suatu bentuk penelitian. Ketiga persyaratan tersebut, yaitu
kegiatan mengontrol, memanipulasi, dan obervasi.
f. Penelitian
kuasi eksperimen. Bentuk penelitian ini banyak digunakan dibidang ilmu
pendidikan atau penelitian lainnya dengan subjek yang diteliti adalah manusia,
di mana mereka tidak boleh dibedakan antara satu dan yang lainnya.
III.PENUTUP
A. Kesimpulan
Metodelogi penelitian adalah sekumpulan
peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku yang termasuk
suatu disiplin ilmu yang digunakan untuk melakukan suatu penelitian dengan
menggunakan metode- metode yang banyak dan tidak berpaku pada satu metode saja.
Metode penelitian psikologi pendidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan
untuk meneliti suatu masalah dengan menggunakan penelitian sehingga masalah
dapat diselesaikan dengan cara yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan
dalam pendidikan. Guru atau pengajar harus mengetahui psikologi pendidikan dan
menggunakan metode- metode penelitian dalam menyelesaikan masalah belajar anak
didiknya. Apabila seorang guru hanya mengandalkan kepandaiannya saja dalam
mengajar maka masalah dalam belajar peserta didik tidak akan terpecahkan dan
malah menambah masalah yang lain. Jadi setiap guru harus memiliki banyak
kepandaian baik dari segi kecerdasan otak, kepribadian, cara mengajar, dan
kreatifitas dalam mengajar.
Dalam psikologi pendidikan metode-metode
tertentu dipakai untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi penting yang
bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran.
Perlu dijelaskan disini bahwa setiap situasi dalam psikologi pendidikan
membutuhkan pendekatan dengan cara tertentu sesuai dengan sifat dan hakikat
dari pada situasi itu. Situasi yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda
pula. Maka dari itu para ahli psikologi pendidikan dalam menjalankan tugasnya
tidak selalu mempergunakan satu macam metode, tetapi mempergunakan dua macam
metode atau lebih.
DAFTAR PUSTAKA
Hadipranata, A.F,
Walgito, B., Adisubroto, D., Masrun, Hditono, S.R, Martaniah, S.M, Partosuwido, S.R, Suryabrata, S., dan Hadi,
Sutrisno. ( 2000 ). Peran Psikologi di Indonesia. Yogyakarta : Pembina
Fakultas Psikologi UGM
Haryanto. (2012). Pengertian
Pendidikan Menurut Ahli. Diakses tanggal 8 November 2013 dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-menurut-ahli/
Khodijah
Nyayu. ( 2011 ). Psikologi Pendidikan. Palembang : Grafika Telindo Press
Lammers,
W. J., & Badia, P. (2005). Development In Infancy. Belmont,
CA: Wadsworth.
Nana
Syaodih, Sukmadinata. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:
Rosda Karya.
Nursaid, Muhhamad Reza.
(2013). Definisi Metode Dan Deskripsi Psikologi. Diakses tanggal 8
November 2013 dari http://desain-pembelajaran.blogspot.com/2013/04/definisi-metode-dan-deskripsi-psikologi.html
Rosady, Ruslan. (2003). Metode
Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Santrock, Jhon W. (2008). Educational
Phschology. Penerjemah Diana Angelica. Psikologi pendidikan. (2009).
Jakarta: Salemba Humanika
Sprinhall, R. (2007). Basic statiscal
analysis (8th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Sugiyono. (2009). Metode
Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sukardi. (2003). Metodologi
Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Vogt, W. P. (2007). Quantitave
Research Methods For Professionals In Education And Others Fields. Boston:
Allyn & Bacon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar